perceraian

Usia perkawinan yang sudah senior tak jamin ‘lolos’ dari ancaman badai perceraian. Perceraian bisa terjadi kapanpun, termasuk pada pasangan usia matang yang telah lama hidup bersama.

Sepertinya tak ada satupun pasangan yang ingin merasakan perceraian. Sekencang apapun badai melanda, selama ada solusi maka perceraian adalah hal terakhir yang akan diambil. Memang, perceraian tidak pernah memberikan sedikitpun kebahagiaan. Sayangnya, kadang perceraian menjadi jalan keluar yang paling bijaksana yang harus ditempuh bagi pasangan tertentu. Meskipun tidak sebanyak kasus perceraian pada usia muda, kasus perceraian usia matang atau disebut “The Groy Divorce Revolution” belakangan juga kerap menjadi pilihan. Lantas, apa yang menyebabkan hal ini terjadi?

Mengapa Berpisah?

Perceraian yang menimpa beberapa artis ‘senior’ akhir-akhir ini banyak membuat orang terkejut. Masalahnya mereka memiliki usia yang tidak muda lagi.

Sebenarnya, perceraian yang terjadi ketika pernikahan memasuki usia yang cukup matang bukan fenomena baru dan wajar saja terjadi. Di mata Psikolog Dr. Ira Puspitawati, MPsi, ada banyak faktor penyebab maraknya perceraian di usia matang.

Beberapa penelitian di Amerika mengungkapkan bahwa perceraian di usia matang merupakan akumulasi permasalahan yang tidak terselesaikan sejak masa awal perkawinan. Hal ini disebabkan karena sejauh ini mereka bertahan dalam sebuah perkawinan dengan beberapa pertimbangan, seperti alasan anak-anak atau karir.

“Tak heran, ketika anak-anak sudah tidak membutuhkan peran orangtua atau karir sudah mencapai masa pensiun, keputusan cerai sering diambil dengan alasan bahwa masih ada sisa hidup yang bisa dimanfaatkan untuk mencapai kebahagiaan daripada harus bertahan dalam perkawinan yang menyakitkan,” paparnya.

Selain itu, beradasarkan hasil telaah lain menyatakan bahwa “sejarah menikah” juga merupakan salah satu aspek penyebab perceraian pada usia matang. Individu yang pernah menikah lebih dari satu kali, disebutkan Psikolog Ira akan cenderung mudah mengambil keputusan bercerai saat terjadi masalah, meskipun telah berada pada usia matang bila.

‘Lupa’ Saat Puncak Karir

Alasan terkuat lain penyebab terjadinya perceraian di usia matang menurut Ira, adalah faktor posisi karir. Psikolog Ira menuturkan, usia matang biasanya merupakan usia dimana seseorang telah berada pada pencapaian puncak karir. Sayangnya, hal ini sering menyebabkan keduanya ‘sibuk’ mengembangkan diri masing-masing, sehingga membuat mereka “lupa” pada kebersamaannya sebagai pasangan. Bahkan, tidak jarang posisi pada puncak karir menjadikan mereka merasa yang “paling hebat” dan memiliki hak untuk melakukan apapun, termasuk perselingkuhan dan keputusan besar seperti bercerai dengan alasan untuk mencapai kebahagaiaan pribadi.

“Puncak karir bila tidak di sharing sebagai keberhasilan pasangan, sangat rentan untuk menjadikan individu. Padahal, puncak karir bisa tercapai juga karena dukungan pasangannya,” tuturnya.

Apalagi, perubahan-perubahan fisik juga mulai terjadi pada usia matang. Psikolog menyebutkan turunnya fungsi fisik, seperti: mata, kerut di kulit, menopause pada wanita atau penurunan kadar testosterone pada pria menurutnya bisa berdampak pada pada kesehatan dan kehidupan seksual pasangan usia matang.

Kondisi ini bisa memicu konflik bahkan perselingkuhan, yang tak menutup kemungkinan berujung pada perceraian.

“Meskipun tidak selalu, fisik “mungkin bisa” berdampak pada kehidupan seksual pasangan usia matang,” katanya.

Perceraian pada usia pernikahan dewasa juga banyak terjadi akibat pengaruh sindrom sarang kosong (empty nest). Sejalan dengan bertambahnya usia perkawinan, pernikahan melibatkan hubungan suami istri yang sangat dinamis. Mereka akan menghadapi beberapa kondisi yang tidak mungkin dihindari dalam pernikahannya, seperti “empty nest” atau sarang yang kosong karena anak telah tumbuh dewasa. Hal itu menyebabkan pasangan usia matang merasa kehilangan.

“Pada tahap ini, anak-anak memiliki dunianya sendiri dan sudah tidak terlalu membutuhkan peran orangtua lagi di dalam kehidupan mereka yang membuat mereka sering merasa “sepi” dan kehilangan kebersamaannya dalam pengasuhan anak,” urainya.

Risiko Berpisah

‘Sudah tua kok cerai? Nggak malu sama anak-cucu?’ Komentar semacam ini yang kerap didengar pasangan usia matang. Rasa sedih, kecewa dan kuatir menghadapi hidup sendiri pastilah ada. Memang, ada yang merasa sulit menerima realita bahwa perkawinannya telah berakhir, terutama bagi pihak wanita yang digugat cerai. Apalagi bila merasa bukan di pihak yang bersalah, ia tentu merasa terpukul dan sakit hati. Begitu juga anak-anak yang sudah tumbuh remaja atau dewasa, Psikolog Ira menyebutkan juga akan terkena dampak dari perceraian kedua orangtuanya. Seperti halnya anak-anak, remaja atau dewasa juga akan merasa bingung dengan terpisahnya kedua orangtuanya. Mereka akan ragu dengan definisi kebahagiaan dalam perkawinan.

“Mereka akan bertanya-tanya apakah “kehidupan bahagia dalam kebersamaan” yang selama ini mereka rasakan adalah bukan kebahagiaan yang sebenarnya, maka mereka akan semakin ragu tentang definisi kebahagiaan yang sebenarnya dalam perkawinan dan berumah tangga,” jelasnya.

Meski begitu, kehidupan tak lantas berhenti setelah perceraian. Supaya sanggup bangkit dan menjalani kehidupan paska perceraian yang pertama harus dilakukan adalah menyingkapi kondisi tersebut dengan hati yang besar. Komentar negatif terhadap perceraian yang terjadi di usia matang seringkali terdengar lebih ‘kencang’ dibandingkan usia muda. Untuk itu persiapkan mental menghadapi omongan yang kurang enak didengar. Alih-alih larut dalam kubang kesedihan, alangkah lebih baik mengalihkan pikiran dan energi dengan melakukan kegiatan positif.

Harmonis Sampai Maut Memisahkan

Usia perkawinan yang matang memang tak jamin bebas masalah. Saling menyesuaikan dan memenuhi kebutuhan satu sama lain, bisa menghindarkan perceraian di usia matang. Kehidupan perkawinan yang terus dinamis tersebut, akan mewujudkan kepuasan pernikahan dan menciptakan pernikahan yang harmonis pada pasangan usia matang.

1. Asuh Anak Kembali

Di luar negeri banyak pasangan usia matang yang memelihara binatang peliharaan untuk mengatasi “empty nest“. Bagi pasangan usia matang di Indonesia, tetap mempertahankan kebersamaan dan ‘lolos’ dari jebakan “empty nest” bisa dilakukan dengan mencoba mengasuh kembali anak angkat atau mengasuh cucu.

2. Perhatian, Wujud Kasih Sayang

Perubahan fisik, kognisi dan tuntutan sosial juga menuntut pasangan usia matang menyesuaikan dengan perubahan agar perkawinan tetap langgeng. Kebutuhan kebersamaan fisik yang biasanya diwujudkan dalam bentuk hubungan intim, bisa diwujudkan dalam bentuk kasih sayang dan perhatian bila pasangan memiliki kelemahan-kelemahan fisik tertentu yang membutuhkan perawatan dan perhatian.

3. Ambil Peran Bermasyarakat

Usia matang memiliki kemampuan kognisi yang terintegrasi dengan baik. Mereka memiliki kemampuan mengintegrasikan logika dan perasaaan serta menjembatani antara harapan dan kenyataan.

Hal itu memungkinkan pasangan usia matang bermanfaat bagi lingkungan sebagai “problem solver“, sehingga secara bersama mereka bisa terjun ke masyarakat dan berperan berperan sebagai penasehat yang bijak. Pasangan usia matang juga bisa berperan sebagai pasangan yang bisa dicontoh sebagai wujud membina generasi masa depan.

Gosip Demi Masa Depan

April 4, 2014
gosip

Siapa bilang gosip itu buruk semata? Bergosip boleh saja, asal dilakukan dengan benar dan tepat. Justru gosip bisa mendongkrak karir. Seperti kita sama-sama tahu, ada aturan tak tertulis bahwa bergosip adalah kegiatan terlarang. Tapi yang namanya perempuan rasanya sulit sekali mengikuti peraturan ini. Sebenarnya, Anda tak usah bersumpah anti gosip karena dengan cara yang tepat […]

Selengkapnya →

Tampil Bergaya dalam Balutan Busana Kerja

March 30, 2014
busana kerja

Siapa bilang, Anda tak bisa tampil stylish dalam balutan busana kerja? Berikan sentuhan gaya berikut ini dan rekan kerja pun akan berdecak kagum. Beberapa pendapat mengatakan kalau penampilan adalah salah satu kunci kesuksesan. Begitu juga dalam dunia karier, apalagi jika Anda sering bertemu dengan berbagai macam klien atau relasi bisnis lainnya. Dalam hal ini, bukan […]

Selengkapnya →

Parfum Favorit Untuk Memikat Kaum Hawa

March 25, 2014
parfum favorit

Kaum perempuan menggunakan parfum itu sudah biasa. Wewangian untuk perempuan pun tidak hanya muncul dari parfum, tetapi juga produk perawatan tubuh lainnya seperti body lotion, hair mist, bahkan lipstik. Namun, laki-laki pun membutuhkan pengharum badan. Parfum untuk laki-laki tidak hanya berfungsi memikat lawan jenis, tetapi juga mengusir bau badan tak sedap dan meningkatkan rasa percaya […]

Selengkapnya →

30 Hari Mencintai Diri Sendiri

March 21, 2014
mencintai diri sendiri

Seringkali kita mengeluh tentang tubuh kita, mencemaskan kekurangan-kekurangan yang ada, tanpa peduli kalau sebenarnya kita juga memiliki kelebihan yang harus disyukuri. Kuncinya adalah menerima dan mencintai tubuh kita apa adanya, dan tentu saja merawat anugerah yang telah diberikan kepada kita. Termasuk menjaga kesehatan dan menjaga penampilan. Berikut ini perjalanan 30 hari untuk mencintai tubuh kita: […]

Selengkapnya →

Tips Sehat Cara Merawat Rambut

March 16, 2014
merawat rambut

Rambut kering, kasar, kusam, dan bercabang membuat tampilan rambut kurang menawan. Belum lagi jika rambut Anda berketombe dan mudah rontok, rasa percaya diri bisa berkurang. Namun, masalah-masalah rambut juga bisa muncul akibat kebiasaan-kebiasaan atau gaya hidup yang buruk. Kebiasaan-kebiasaan ini terlihat sepele, tetapi jika dilakukan terus-menerus, rambut pun bisa menjadi lebih mudah rusak. Mari simak […]

Selengkapnya →

Tetap Cantik, Tetap Hemat

March 12, 2014
tetap cantik

Kecantikan tentu menjadi idaman setiap wanita. Dan karena itu banyak yang rela merogoh kocek dalam-dalam demi untuk mendapatkan perubahan pada penampilan mereka ke arah yang lebih baik. Jika kita memang memiliki dana yang berlebih, tentu tidak masalah bagi kita untuk membayar jasa profesional demi mendapatkan kecantikan yang kita idam-idamkan, namun jika kebetulan dana ekstra tersebut […]

Selengkapnya →